Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Ajari Aku Tersenyum

Aku tau aku tidak mudah tersenyum. bukan bibirku, tapi hatiku. Senyum memang tampak di depan, tapi menghilang di dalam. Sejak saat itu, aku pergi. Bukan raga ini tapi pikiran ini. Bukan. Tentu saja bukan. Bukankah kau selalu berfikir yang bukan-bukan? Tentangku yang tak pernah tau. Gelapku yang semua orangpun tak tau. Kisahku yang semua orang membisu. Bisakah kita berpura-pura Saja?

Tentang Kakimu yang Suci

Biasa...bermain di lembah kehidupan Terlalu biasa...menepuk angan berlarian mengecoh takdir Nafas-nafas panas mengalir menimpuk tajamnya tatapanmu Aku peduli hanya sebagai kaki dan tangan pembalas budi Di belakang sana tawa, tangis, teriakan, teka-teki melekat Rindumu mengikat pundakku... Hingga kulit-kulit mulai keriput... Tetap saja engkau disampingku... Tetap saja engkau paham walau tak ada nada terngiang... Timang-timang memukul masa lalu tanpa suara... Pejam peluk perasaan selalu.. Kini kakimu bukan lagi kaki bengkak... Saat aku benar-benar tau apa dibaliknya... Setiap jalan yang engkau lalui... Setiap sisi hidupku terbuka perlahan... Masih belum benar-benar paham... Kata tercampur suara tawa.. Senyum yang kian terbuka..

Kaki yang berjalan pelan

Seseorang pernah memberi tauku. Seseorang yang penting. Dia pernah berkata kurang lebih seperti ini "Kamu tau...ibu tidak pernah meminta apapun dariku (anaknya)...melihat aku bisa berjalan walau pelan, saat pertama kali aku belajar berjalan, merupakan kebahagiaan yang tak ternilai baginya" Aku tidak benar-benar paham kalimat itu. Bahkan sampai saat ini. Bagiku, itu wajar saja. Seorang anak pasti tumbuh secara biologis. Berjalan merupakan salah satunya. Aku tidak mengerti pada bagian "kenapa dia(ibu) bahagia dengan hal itu". Aku baru saja menemukan jawaban itu. Tepat ketika seorang anak kecil, anak dari teman kecilku bermain di rumah. Itu kerjaan ayahku. Dia senang sekali membawa si kecil itu untuk bermain di rumah. Saat itu, dia sedang dalam masa memperoleh kekuatannya untuk berjalan. Ayahku selalu saja memberikan nyanyian-nyanyian kecil agar si kecil itu berjalan. nyanyian itu, membentuk senyum si kecil. Si kecil lalu berdiri dengan kaki kecilnya yang terlihat sed...

Kembali Bersemi Sebuah Kesemuan

Assalamualaikum.... Semoga kalian baik-baik saja entah siapa pun kalian yang membaca tulisan ini... Sudah lama sekali tidak menulis di blog ini... Maklumlah...semester akhir...banyak perang dengan kertas, dosen dan ide-ide gila perihal revisian Insya Allah beberapa minggu ke depan saya akan meng update konten di blog ini

Diantara 3 Kata

Gambar
Diantara 3 Kata Suka... Cinta... Sayang... Dimanakah letak hatimu...? Sungguh aku tak pernah mengerti... Suara perasaan ini... Ke arah mana...? Dan dari mana..? Bagaiman semua berawal....? Yang hanya aku tau... Aku lelah jika tak melihat senyummu... Aku bingung jika tak mendengar apapun tentangmu... Dan aku sedih bersamaan dengan datangnya senyum saat kamu memenuhi pikiranku... Namun... Berkisah tentangku... Hanyalah titik kecil... Mencoba memangku bintang... Cahyanya menyebar... Titik kecil pun menghilang... Lebih dari itu semua... Tak ada yang sia-sia... Aku hanya milik tuhanku... Kamu pun sama... Aku selalu tau tentangmu dalam doaku... Aku kirim pesan itu dengan wajah menengadah ke langit... Aku ingin menjagamu... Tuhanku lebih berhak menjagamu... Semoga kita dipertemukan... Bersama Kisah dan Petualangan... Bersama sedih dan senang... Bersama ketaatan... Bersama... Saling menjaga dan melengkapi... Andriawan-d Image Source: http...

Air Mata Hujan

Gambar
Air Mata Hujan Tak ku sebut kau rindu, karena kau lebih mirip senyum. Tak ku harap kau mendekat karena kau ada di hati. Seperti mereka tak butuh sempurna. Lelah waktu milik berdua. Selama hati tetap terjaga. Hujan ada di seberang. Membawa berita akan terbit terang. Menunggu membisu. Hangat kepastian menjamu. Tetap kau bersamaku. Gengam harapan di tanganmu. Aku tak jauh ketika sadar hujan menumpuk rindu. Yakin hari esok bukan musim hujan. Tapi tersisa hujan di matamu. Persis seperti linangan rindu. Aku mulai yakin kau titipkan air mata pada hujan. Dan kau mengambil hujan untuk air mata. Aku tak pernah tau itu derita. Hingga tajam merobek suara. Menulis kata di punggung media. Kau tertulis lalu teriris. Aku hanya mampu meredam tangis. Saat senyummu mulai terkikis. Tak ku sadari senyummu secepat itu menetes membasahi bumi. Berubah dan tersiksa. Secepat itu kau melipat kisah lalu menutup dengan senyum Hujan pun tak kuasa untuk tetap memelukmu berulang kali. Image ...

Tangan Kecil dan Rambut Beruban

Gambar
Tangan Kecil dan Rambut Beruban Lebih dari hanya sebuah langkah. Lebih dari hanya sepasang kaki kecil berlari. Lebih dari tetesan keringat yang mengucur menginginkan hati yang makmur. Semua itu lebih dari apa yang dia harapkan dari setengah abad nafasnya. Tak peduli hati hancur, tak peduli teror status kasta. Langkahnya serupa nadi waktu tak kenal lelah. Menadahkan tangan mengisi diantara jiwa. Lelah sudah pasti. Tapi nyawa perlu isi. Bukan angin. Bukan pula cacian acuh. Sosok itu hanya butuh belas kasih. Dalam ukuran berbentuk receh. Namun ketulusan sebening intan. Siap menghamburkan doa di tengah malam. Tulus tanpa goresan kepentingan. Damai tanpa riuh pengadilan dunia. Atas nama kesibukan, bahkan waktu enggan menyapa. Hening tapi tak peduli. Mengaku diri sebagai manusia berhati lembut. Dimanakah saat mereka merintih mengigau nasi. Sungguhkah kita manusia berjiwa...jiwa yang mana... Aku pun palsu. Sembunyi dalam tulisan ini. Padahal hati seperti mereka yang lupa. Bahkan ...

Goresan Putih Tentangmu

Gambar
Goresan Putih Tentangmu Aku lega kita telah berbagi senyum... Yang mungkin memudar dihisap waktu... Entahlah.. Kamu tampak bahagia di depan sini... Namun... Aku tak melihat itu di kedua bola matamu... Aku tak pernah bisa melihat semuanya tentangmu... Engkau pandai memoles senyuman... Hingga pedih pun enggan keluar... Kesedihan masih tetap samar... Sampai akupun hanyut... Sampai akupun takut... Sampai akupun khawatir... Terpisah walau sedekat itu.. Aku tak pernah berani menyentuh kisahmu... Yang tampak kau ikat erat dalam hatimu... Menyisahkan kenangan yang sulit dihilangkan... Kau dan bagian lain dari masa lalumu... Aku lega kau masih bisa tetap tersenyum... Senyum penuh kekuatan... Masih tentangmu yang perlahan mengambil hatiku.. Aku pun tak tau... Aku pun tak sadar... Saat aku menitipkan beberapa senyum untukmu... Saat aku mencoba memberimu potongan kisahku... Aku bahkan tak tau bagaimana hati bisa memilihmu... Senyum.. Hanya itu yan...

Tak Pernah Ada Ceritaku di Sana

Gambar
Tak pernah ada ceritaku disana Kisahku tak mendunia... Apa lagi dipuja-puja... Seperti kenangan bertahan melampaui badai... Tetap bersama bayang... duduk bersama menanti cerita... baru dan laku... merindu tak pernah satu... cukup untuk menyebut itu sebuah harapan Karena ceritaku terbungkus ingatanmu... Tak pernah kemana-mana... Selalu tertidur menunggu senja memeluk matahari... Sampai bulan menghendaki meminjam cahaya... Merenung mengutip fakta... Aku bersenda gurau hanya dengan bayang... Tak pernah memiliki selain angan... Aku kembali lagi pada awal yang hampir mendekati akhir... Sama seperti biasanya... penuh akan makna... tapi terselip derita... aku terpejam menunggu pulang... image source:  https://pixabay.com/en/rain-poland-autumn-loneliness-1048936/

Potongan Kisahku, Untukmu

Gambar
Potongan kisahku, untukmu kumpulan senyum yang dulu terbagi, kini terkumpul. Tepat di depanku. Tepat di hatiku. Berbicara mengisahkan cerita lama. Tak pernah aku menyampaikan mata indahmu saat meja kayu menertawaiku. Jalanku kini melihat wajahmu. Tak peduli waktu memarahiku soal berlama-lama memungutimu. Apalagi bercerita memilah rasa. Kamu memasuki sebagian duniaku. Aku seperti biasa mengumpulkan senyummu. Tak pernah bosan. Tak pernah berhenti untuk penasaran. Entah apa yang melibatkan pikiranku untuk memutuskan sebuah hati. Aku hanya memutar kemudi untuk tak beranjak pergi. Tak pernah tau, tentang sebuah hati. Apalagi keadaan hatiku yang menyimpan namamu. Yang aku tau, kamu dan aku setuju menyebut itu sebuah keadaan nyaman. Lega melihatmu tersenyum seperti biasa. Aku menitipkanmu selalu kepada sang pencipta. Agar kelak suatu hari kamu dan aku benar-benar bisa membagi cerita sepenuhnya. Dalam barisan doa yang mengutip namamu. Terjaga dalam kisahku yang kuberikan...

Aku dan Lautan Manusia

Gambar
Aku dan lautan manusia Sebuah warna dikala senja menaiki tahta. Merah langit menuruni bukit. Langkah manusia melupakan asa penghibur rasa. Masa dimana peluh tak lagi jadi pengukur sebuah keseriusan berkarya. Masa dimana senyuman menjadi penghias meja makan persidangan. Masa dimana aku menikmati sendiri dalam sunyi. Semua ada dalam riuhnya lautan manusia. Memanggil nyawa pengiring penghormatan sesama. Tiba dimana matahari bersembunyi. Menitip salam rindu berbentuk berkas cahaya pilu. Aku dan impian kembali menyusup. Masih tetap di antara riuhanya lautan manusia. Masih dan akan masih terjadi. Air menghitam dikala mata tak lagi melihat kebenaran. Air mendidih mengucilkan waktu pagi. Masih bersemaiam di antara riuhnya manusia. Tak pernah aku bisa memukul bayangan mereka. Terus saja berubah-ubah menyerupai takaran tangan manusia. Meminjam ingatan dan membawanya pergi. Tanpa meninggalkan jejak apapun. Sekarang, aku harus mencari semua ingatan itu bersama ingatan manusia yang s...

Sepotong Roti di Pagi Hari

Gambar
Sepotong Roti di Pagi Hari Tak pernah mata ini berjalan sepagi ini. Mencari lalu mencuri doa-doa yang hampir menyapa langit. Di tengah jalan uang koin menunggu untuk dipungut. Melatih jeli para pengais rejeki. Alasan tercipta bersama hidangan roti berisi sandiwara. Nikmatnya. Lekaslah sembuh sebuah luka. Dokter hanya butuh rupiah sandiwara. Di zaman ini apa sih arti sehat. Hanya sepotong roti dan sepatah kata berlandaskan sugesti. Tak ada yang memberi susu maupun obat di dunia bisnis. Dunia hanya memberimu kabar bahwa bisnis menawarkan racun manis. Tak jelas arti kata mati. Potongan-potongan roti mengerti untuk siapa dia dilahap. Kadang untuk pria buncit beruban. Kadang untuk seragam sekolah yang menyisakan potongan lainnya. Kadan pria kriput berbaju lusuh mendapatkannya. Hanya saja setelah berumur dua hari. Pagi benar-benar mengisahkan perjuangan roti. Setelahnya, potongan takdir berlaku kembali Image Source:  https://pixabay.com/en/toast-toaster-food-white-bread-...

Akulah Nahkodaku Sendiri

Gambar
Akulah Nahkodaku sendiri Mereka mampu mengucilkan arah, merampok masa dan menyembunyikan janji. Meluapkan kisah itu dalam formasi waktu. Sebagian oleh aku, sebagian oleh jiwaku. Benar sebuah jalan, saat di sana ada sepasang telapak kaki menghisap pasir. Tak banyak kisah telapak kaki di jalan kebenaran. Sementara gerbang menuju penghakiman hitam memenuhi kaki hingga nampak tak asing bagi pencuri maupun pembunuh. Waktu pun terpisah di kala itu. Waktu pun enggan memberitahu. Muncullah pilihan ditemani nafas hidup yang belum sepenuhnya berhembus. Aku diantara pilihan itu sebelum sempat terjatuh. Takjub melihat bulan bernyanyi. Melilit awan sebagai hiasan malam. Merindu nama diantara jendela kamar tua bersarang laba-laba. Redupnya lampu memberitahu isyarat pergantian detak jantung yang perlahan menipu. Kini aku diantara tanah dan langit. Terlentang menyikapi dunia yang lantang. Tak perlu suara untuk mengujinya. Pilihan masih terus mengalir bersamaan dengan dunia yang semakin me...

Seperti Sebuah Senyuman

Gambar
Seperti Sebuah Senyuman Berkali-kali aku jatuh. Namun tak pernah menemui rasa sakit. Berkali-kali aku kecewa. Tak pernah menemukan penyebabnya. Dunia seperti permainan boneka-boneka manusia. Dimana setiap kata tak pernah dimaknai sempurna. Berlalu begitu saja. Dibalik kaca berembun, aku melihatmu seperti seorang putri dihiasi goresan hitam putih. Sementara aku duduk di atas mesin besar memuntahkan asap hitam. Didepanku deretan kursi terpasak menunggu tuan muda mengambil langkah. Ada banyak tawa, cacian, pertanyaan dan hinaan di tempat itu. Namun, aku lebih memilih menatapmu, meski dari jauh. Aku lugu menyimpan senyum. Tidak pernah hati serapi ini menyimpan deretan ingatanmu dan perasaanku. Aku tersenyum dalam hati. Tapi tetap saja hati itu beku. Ada banyak nama di pikiranku. Namun hanya namamu yang berhasil menangkapku. Membawanya dan meletakkannya agar tak pernah lupa. Tapi tetap saja hati itu dingin dan bertambah tetesan embun baru. Tak pernah sempat untuk menghampir...

Nyawa-nyawa Para Pemimpin

Gambar
Nyawa-nyawa Para Pemimpin Tidurlah tidur meniduri senja. Bangunlah bangun membangun mental agar engkau tak sengaja sakit saat sidang. Teruslah menuruskan penertiban pedang dua kaki yang gigih. Mungkin esok hari tanah berubah menjadi merah. Sisa darah rakyat yang tumpah. Singgasana masih aman. Tidur pun dilanjutkan. Sidang pun masih tetap berjalan. Kebutuhan rakyat pun dibahas. Berlama-lama agar api tak padam. Hangat di dalam wakil rakyat, sisa dingin diberikan kepada rakyat. Kemeja tak perlu rapi. Toh nanti pas sidang masih tetap berkelahi. Atau mau bunuh diri. Sisakan suap untuk rekan-rekan. Hey, yang benar saja. Kurang jumlahnya. Kami rakyat malu. Kami sudah muak diwakili. Biarlah kami maju sendiri. Membawa kesejahteraan kami. Tak ada lagi gedung. Dasi. Kemeja. Mobil. Biarlah semuanya jadi taman-taman padi yang menguning. Sebelum semua terlambat. Biarlah presidennya ada tiga ratus lima puluh juta jiwa. Image Source:  https://pixabay.com/en/businessman-m...

Bait-bait Doa yang Menunggu Jatuh

Gambar
Aku dengar langit penuh sesak sebuah permintaan. Sampai mata ini memperoleh langit kelabu. Tutup langit seakan bukit-bukit yang mengigit bait. Bait yang menetap di ujung kedua tangan, tetesan akhir air mata dan sepertiga malam yang sunyi. Pernah aku ulang langkah-langkah ringan menimbun keringnya surau. Padahal air mengucur mempersilahkan lumut melukis dinding setiap sisi. Ternyata kering bukan urusan masing-masing. Tapi segumpal daging tak melihat cahaya lagi. Menunggangi lelap ditumpukan gelap. Celah langit kadang sengaja menjatuhkan sesuatu. Agar manusia tau. Hari mulai tua dan lelah. Nasib berubah pikiran terlalu sering. Hujan hanya hamparan sekejap yang lupa dimana harus turun. Hanya sedikit kutemui. Doa yang terjaga. Kadang hanya tergesa-gesa. Kadang doa ada dibarisan status sosial, di ketikan terakhir pria malang di kamar mandi. Jarang doa itu berbentuk nyata di serambi masjid sebelah. Kadang hanya beberapa memilih di antara lima. Tak pelak hati perlahan mati. Apa...

Matahari Memilih Teduh

Gambar
Matahari Memilih Teduh Mungkin tanah ini tanah terbaik di bumi. Cahayanya menembus lembaran kehidupan jutaan manusia. Disana sini hutan bernyanyi. Baru-baru ini berbau asap. Lompatan hewan mamalia menjadi bukti. Wakil manusia kadang menghakimi. Nafas-nafas berat butuh uang panas. Di saku celana, terpancung erat. Sungguh ironis, kata-kata tak sempat berteriak keras. Para penadah berkumpul di singgasana. Decit kaki berbalut sepatu bermata dolar berbaris lembah lembut. Bergelar suara sound mengelilingi gedung beratasnamakan suara rakyat. Cepatlah cepat tidur, kata rakyat berbaju kusam. Namamu tak akan muncul esok hari. Kata Ayah para anak. Semua menyiapkan tikar langit dan alas kardus. Kepala menyimpan cerita. Mirip derita. Matahari menjadi alarm hangat para petani. Menjadi penanda bagi para pekerja. Menjadi payung bagi pemalas. Kata orang asing, ini negeri seribu janji. Negeri emas. Negeri dongeng. Negeri pencuri. Sampai akhirnya khatulistiwa memilih berjalan kaki. Tak ...

Kisah Waktu

Gambar
Kisah Waktu Untukmu bernama waktu. Aku masih bingung. Tentang terciptanya senja, pagi buta dan kata terlambat. Aku masih mencari-cari ujung usia muda, tua dan setelahnya. Aku habiskan semua kisah. Tapi tak satupun bertemu rupa waktu. Aku ikat erat-erat dentingan detik sebelum menginjak menit. Supaya tak lengah,tak berdaya. Waktu tetap tak dapat terhenti untuk ku ajak bicara. Waktu tetap berjalan. Kadang berlari sangat kencang. Aku terengah-engah saling berlarian. Akhirnya ku genggam waktu itu dengan genggaman erat. Dan aku mulai bertanya pelan. Apa yang membuatmu ditakuti banyak orang? Karena aku tak pernah peduli kepada apapun dan siapapun selain yang menciptakanku. Tiba-tiba waktu menamparku dan mengembalikanku di penghujung subuh. Berakhir di atas sajadah berdebu. Image Source:  https://pixabay.com/en/the-eleventh-hour-disaster-758723/

Lensa berdebu

Gambar
Lensa Berdebu Diamlah... Itu hanya sebuah kamera... Membuat warna berubah-ubah... Semudah melempar batu ke kepala... Harusnya tak usah bicara... Diamku, Anganku, suaraku... Tak sama denganmu.. Image Source:  https://pixabay.com/en/camera-photography-lens-equipment-801924/

Pisahkan dan pertemukan

Gambar
Pisahkan dan Pertemukan Tuntunlah hati untuk berpisah. Agar aku dapat berjumpa di bagian dari kisahmu saja. Bukan aku tak peduli pada hati, bukan pula rasa yang mati, tapi sebuah janji untuk tak saling menyakiti. Biar waktu yang diberikan tuhan menjadi saksi. Saksi yang tak pernah berbohong. Memiliki takdir memang sangatlah menggiurkan. Namun memiliki iman sangatlah mententramkan. Hati yang tak pernah tersentuh nada cinta buatan manusia. Cukuplah hati ini milik sang pencipta.