Postingan

Sembunyi di Dataran Sunyi

Gambar
Aku sering bercermin  Dan kadang aku berbohong Sering... Seiring bertambah dewasa Aku ucapkan kata mahal Sekedar menutupi kesunyian Tamparan permukaan Tak sempat Aku pegang Aku dan Jalan memucuk Tepat di ujung Aku bertepuk Menebar tetesan tetesan Orang anggap air mata Sikapku berpola Balita sanggup membacanya Kadang merenggut suasana Tepat saat lembah bernana Aku duduk Tak berfikir  Kosong  Saat ucapan ini mengalir Aku bagai bola bola Dilempar  Kemudian Jatuh Kadang memantul Ke arah yang tak betul Bisuku menyebutnya abadi Tak lahir tak sedih Segala yang melekat raga Tinggal sebentar  Aku menyebutku kuat Persis seperti orang sekarat Nekat Taat Umpat Masih beranikah kau berjalan di atas Api Kau aku dan aku mirip kelemahan (Untuk aku dan aku yang bodoh...)

Ilusi Pengkhianatan

Gambar
Aku pernah disitu... Saat jari pucatmu menggerutu... Memecah mental Tetap Kaukah saat itu sisi lain Mencibir awal Tak pernah berakhir Dunia waktu itu... Serupa penghianatan Tidak global Hanya lokal Telunjuk membelokan arah Tepat di muka Aku terlalu kecil Untuk nafsu dunia Terlalu besar Sepucuk surat Memindah watak Dari anak-anak Sebenarnya aku yang payah Menterjemahkan derita menjadi bahagia Budak Ilusi Itu Aku Saat waktu ada di belakang Menawarkan kenaikan Remajaku... Tahun itu... Pilu... Kelambu... Haru... Tiba tiba semuanya hanya tulisan (untukku beberapa tahun yang lalu)

Hujan Turun dari Hujan yang Lain

Gambar
Tak cukup... Hanya karena kita terus menanti... Tak apa... Kita berceria diri... Berjumpa dengan hujan... Hujan yang waktu itu kita nikmati... Tak perlu bertanya tentang hujan air mata... Sederhana... Makna... Pernah turun di hujan lain... Tak masuk akal... Tak untuk masuk di akal... Kadang hujan pun pernah berkorban Cacian manusia saat tetesan pertama Menembus tanah... Sungguh tak apa... Kau Kita merindu... Mereka tetap menunggu..  Menunggu titik hitam membesar Hujan nyaman dalam pelarian... Hujan dingin dalam ingin... Hujan menyapu air mata... Teriakan gembira... Menghapus noda... Untuk kali ini aku manusia... Seperti kata orang... Hujan punya kisah... Miliaran manusia lupa mendung... Sebelum hujan... Aku tak tau badai pernah bertamu di kala hujan... Izinkan hujan memelukmu... Sebelum Aku...

Berdansa dengan Langit Merah Muda

Gambar
Umurku tak lagi berlari Tapi aku tetap suka berlari-lari Menunggumu Atau tepat di belakangmu Kita pernah jauh dan dekat Kita sama-sama meminjam sayap Tak satupun patah Dua bukan berarti tak patah Aku tidak lelah Tak Aku yakin kita pasti menua Soal usia Bukan soal rasa Kini Aku merawat hati Jauh sebelum nada kita berkerumun Membentuk simfoni Melantunkan barisan kata Hampir tiap malam kita berjumpa Hadir di tengah senyap dan tawa Maukah engkau aku jaga? Aku tukar kesetiaan Aku tawar rindu Aku beli jarak ini Aku temanmu Dan akan menjadi teman Teman tawa Teman satu rasa Teman satu suasana Teman masa tua Tapi aku adalah orang dalam diam Kamu orang yang aku ingin bukan diam Aku dan suaramu membentuk simpul Aku, Kamu dan segala hidupmu Aku carikan keringat Aku akan carikan petualangan Membawamu masuk Mengeluarkanmu bahagia Dimana... Kapan... Bersama... Kita akan tau... Setelah waktu menyambut... Setelah waktu tersusun... Aku akan bersamamu kan? Kamu bersamaku pastikan? Aku menggenggammu... Da

Hai.. Aku Curhat nih...

Malam yang terasa sama seperti malam di Minggu -minggu sebelumnya. Dan ini, malam Minggu. Entah apa yang membuat aku tergerak nulis lagi. Kali ini bukan tentang puisi. Hanya sedikit pandangan diri. Di titik ini, detik ini, aku memutuskan banyak hal. Keputusan yang sebenarnya aku sendiri belum benar-benar tau apakah itu yang terbaik. Setidaknya, aku sudah mengambil keputusan. Dan menerima konsekuensi. Tahun ini, 2019, tahun penting bagi keluargaku. Tahun ini pertama kalinya akan hadir anggota keluarga baru. Ya, kakak pertama akan menikah. Semoga lancar. Semuanya terlihat bersemangat. Akupun juga. Karena aku tau, ini moment yang ditunggu-tunggu oleh ibu. Melepas anak pertamanya menjalani kehidupan yang sebenarnya. Itu artinya, waktunya berhenti sejenak dari rewelnya ibu kota. Menyediakan waktu, kembali ke kota kecil. Kota dimana kita, entah istimewa atau tidak, pernah bertemu. Bertemu keluarga, Berkumpul dan merayakan. Sudah setahunan ini aku melihat ibu gelisah. Anak laki-laki pertamany

Lembar-lembar Kertas Lusuh

Kali ini aku tidak bercerita tentang teknis. Blogku yang satu ini lebih membahas sisi pribadi. Tak ada bau pekerjaan atau karir di sini. Hanya celoteh refleksi dan potongan-potongan ceritaku.

Nairsa

Sebuah nama yang akan menjadi konsep tulisanku. Entah kapan. Aku suka nama itu. Aku akan mengawalinya dari kisah karakter nairsa. Gadis kecil yang berjuang membuktikan dirinya bisa. Selalu membuktikan dirinya bisa. Dan selalu menyimpan semuanya sendirian. Rapat dan erat.