Postingan

Kepala Yang Tak Pernah Memutih

Semua orang senang akan tau Senyumku palsu Karena aku tak punya bibir Sempat ku tinggal di akhir Nyaris saja aku hafal Nama nama penyesalan Tertuang dalam keheningan Sebuah perbedaan Sempat berfikir Tak masalah berbeda Kita akan selalu berdaya Sampailah badai ribuan arah Memecah menelan asa Aku tak pernah curiga Aku tak pernah ingin lupa Jiwa kosong semakin kosong Jiwa jahat semakin membaik kembali jahat tercabik-cabik Aku tak tau arahku Tujuanku, keinginanku Semua terkikis, tak lagi tipis Isinya hanya kulit kering mudah terbang dilahap angin Aku terdiam bersama peron Menunggu kereta tempatku menitipkan Seperangkat kepala hitam Ingin lekas cuci bersih Tapi tak pernah ingin air Tak pernah... Suara semakin menjauh Aku perputar menunggu kereta selanjutnya Tapi ini sudah tengah malam... Tak ada waktu... Tak ada waktu... Aku pinjam...

Sembunyi di Dataran Sunyi

Gambar
Aku sering bercermin  Dan kadang aku berbohong Sering... Seiring bertambah dewasa Aku ucapkan kata mahal Sekedar menutupi kesunyian Tamparan permukaan Tak sempat Aku pegang Aku dan Jalan memucuk Tepat di ujung Aku bertepuk Menebar tetesan tetesan Orang anggap air mata Sikapku berpola Balita sanggup membacanya Kadang merenggut suasana Tepat saat lembah bernana Aku duduk Tak berfikir  Kosong  Saat ucapan ini mengalir Aku bagai bola bola Dilempar  Kemudian Jatuh Kadang memantul Ke arah yang tak betul Bisuku menyebutnya abadi Tak lahir tak sedih Segala yang melekat raga Tinggal sebentar  Aku menyebutku kuat Persis seperti orang sekarat Nekat Taat Umpat Masih beranikah kau berjalan di atas Api Kau aku dan aku mirip kelemahan (Untuk aku dan aku yang bodoh...)

Ilusi Pengkhianatan

Gambar
Aku pernah disitu... Saat jari pucatmu menggerutu... Memecah mental Tetap Kaukah saat itu sisi lain Mencibir awal Tak pernah berakhir Dunia waktu itu... Serupa penghianatan Tidak global Hanya lokal Telunjuk membelokan arah Tepat di muka Aku terlalu kecil Untuk nafsu dunia Terlalu besar Sepucuk surat Memindah watak Dari anak-anak Sebenarnya aku yang payah Menterjemahkan derita menjadi bahagia Budak Ilusi Itu Aku Saat waktu ada di belakang Menawarkan kenaikan Remajaku... Tahun itu... Pilu... Kelambu... Haru... Tiba tiba semuanya hanya tulisan (untukku beberapa tahun yang lalu)

Hujan Turun dari Hujan yang Lain

Gambar
Tak cukup... Hanya karena kita terus menanti... Tak apa... Kita berceria diri... Berjumpa dengan hujan... Hujan yang waktu itu kita nikmati... Tak perlu bertanya tentang hujan air mata... Sederhana... Makna... Pernah turun di hujan lain... Tak masuk akal... Tak untuk masuk di akal... Kadang hujan pun pernah berkorban Cacian manusia saat tetesan pertama Menembus tanah... Sungguh tak apa... Kau Kita merindu... Mereka tetap menunggu..  Menunggu titik hitam membesar Hujan nyaman dalam pelarian... Hujan dingin dalam ingin... Hujan menyapu air mata... Teriakan gembira... Menghapus noda... Untuk kali ini aku manusia... Seperti kata orang... Hujan punya kisah... Miliaran manusia lupa mendung... Sebelum hujan... Aku tak tau badai pernah bertamu di kala hujan... Izinkan hujan memelukmu... Sebelum Aku...

Berdansa dengan Langit Merah Muda

Gambar
Umurku tak lagi berlari Tapi aku tetap suka berlari-lari Menunggumu Atau tepat di belakangmu Kita pernah jauh dan dekat Kita sama-sama meminjam sayap Tak satupun patah Dua bukan berarti tak patah Aku tidak lelah Tak Aku yakin kita pasti menua Soal usia Bukan soal rasa Kini Aku merawat hati Jauh sebelum nada kita berkerumun Membentuk simfoni Melantunkan barisan kata Hampir tiap malam kita berjumpa Hadir di tengah senyap dan tawa Maukah engkau aku jaga? Aku tukar kesetiaan Aku tawar rindu Aku beli jarak ini Aku temanmu Dan akan menjadi teman Teman tawa Teman satu rasa Teman satu suasana Teman masa tua Tapi aku adalah orang dalam diam Kamu orang yang aku ingin bukan diam Aku dan suaramu membentuk simpul Aku, Kamu dan segala hidupmu Aku carikan keringat Aku akan carikan petualangan Membawamu masuk Mengeluarkanmu bahagia Dimana... Kapan... Bersama... Kita akan tau... Setelah waktu menyambut... Setelah waktu tersusun... Aku akan bersamamu kan? Kamu bersamaku pastikan? Aku menggenggammu... Da...

Hai.. Aku Curhat nih...

Malam yang terasa sama seperti malam di Minggu -minggu sebelumnya. Dan ini, malam Minggu. Entah apa yang membuat aku tergerak nulis lagi. Kali ini bukan tentang puisi. Hanya sedikit pandangan diri. Di titik ini, detik ini, aku memutuskan banyak hal. Keputusan yang sebenarnya aku sendiri belum benar-benar tau apakah itu yang terbaik. Setidaknya, aku sudah mengambil keputusan. Dan menerima konsekuensi. Tahun ini, 2019, tahun penting bagi keluargaku. Tahun ini pertama kalinya akan hadir anggota keluarga baru. Ya, kakak pertama akan menikah. Semoga lancar. Semuanya terlihat bersemangat. Akupun juga. Karena aku tau, ini moment yang ditunggu-tunggu oleh ibu. Melepas anak pertamanya menjalani kehidupan yang sebenarnya. Itu artinya, waktunya berhenti sejenak dari rewelnya ibu kota. Menyediakan waktu, kembali ke kota kecil. Kota dimana kita, entah istimewa atau tidak, pernah bertemu. Bertemu keluarga, Berkumpul dan merayakan. Sudah setahunan ini aku melihat ibu gelisah. Anak laki-laki pertamany...

Lembar-lembar Kertas Lusuh

Kali ini aku tidak bercerita tentang teknis. Blogku yang satu ini lebih membahas sisi pribadi. Tak ada bau pekerjaan atau karir di sini. Hanya celoteh refleksi dan potongan-potongan ceritaku.

Nairsa

Sebuah nama yang akan menjadi konsep tulisanku. Entah kapan. Aku suka nama itu. Aku akan mengawalinya dari kisah karakter nairsa. Gadis kecil yang berjuang membuktikan dirinya bisa. Selalu membuktikan dirinya bisa. Dan selalu menyimpan semuanya sendirian. Rapat dan erat.

Cermin 2019

2019, postingan pertama di tahun ini. Banyak hal terjadi. Belum sempat tersampaikan di sini. Belum sempat bercerita. Tahun ini...aku memutuskan untuk tidak lagi mengutak-atik masalah hati.. masalah wanita... masalah cinta... Padahal... beberapa bulan sebelum keputusan aku menyerahkanmu kembali ke awal semula ketika perasaan ini muncul, aku sangat-sangat siap membicarakan pernikahan, membicarakan masa depan. Walaupun sebenarnya aku tidak paham benar apa itu. Tapi bersama kamu, itu semua serasa bisa dijalani. Sesulit apapun. Tidak lagi.. Mengapa? Karena aku sadar... benar-benar sadar. Aku bukan pilihan. Tak bisa memilih. Tak punya jalan lagi. Sebelumnya... Aku seperti prajurit...terus berjuang... mendapatkan hatimu... walaupun tampak di sana...tak berbuat banyak... hampir tak berbuat apa-apa. Aku menunggu dan menanti keputusan. Sembari memperbaiki diri. Terus seperti itu. Hingga orang tuamu, memberi sinyal. Keraguan. Ketidakmampuan. Ketidakpercayaan. Aku ingin maju menepis sem...

Aku dan Potongan Kisah

Di titik ini, aku tidak berani lagi menyentuh kisahmu. Hanya potongan kisah. Kadang hanya angin berlalu. Kita dewasa. Kita dipaksa dewasa. Aku tak lagi banyak menawarkan senyum. Rangkaian kata sudah tak lagi rapi. Pegangan ini tak lagi erat. Tak lagi aku ingin... Seluruh kisahmu... Aku biarkan utuh... Seutuhnya milikimu... Aku titip angka 26... Aku titip segumpal senyum... Kita menua... Saat kita benar-benar berkisah... Saat senja membawa kita duduk... Kemudian berdiri... Meninggalkan genggaman... Sebelum senja lelah...

Ini Aku

Hei... Ini Aku... Kau tak mengenalku... Lagi... Kenapa... Bagaimana bisa... Tidak mungkin... Lagi... Hei... Maaf... Lagi... Sekali lagi... Tidak lagi... Andriawan

Apa Kabar Jakarta

Sudah sangat sangat sangat lama aku tidak menginjakkan kaki di blog ini. Sebuah kalimat hiperbola dilontarkan oleh penulis gadungan. Pena hatiku berdebu. Tak sempat tertuang pada halaman-halaman digital yang tinggal di sini. Yap...tulisan ini diketik dari ponsel canggih keluaran terbaru saat kipas angin menyala mengusir panas dan nyamuk. Tulisan ini cukup dekat dengan lokasi Monas. Hanya beberapa kilometer saja. Kenapa aku kemari? Karena seseorang pernah datang kesini. Meminta izin. Lalu pergi. Lalu.. apa saja yang tersisa darimu selain ketika jari, stress, panas dan rutinitas membosankan terus bergulir? Harapan kecil bahwa aku bisa mengadu nasib layaknya orang berbadan kekar lainnya. Tak perlulah kusebut-sebut ibu kota. Toh sama saja dengan kota-kota lainnya. Hanya saja gedung-gedung dan kemewahan yang sering muncul di Televisi. Membawa sedikit sekali sisa gaji untuk dikumpulkan dan dikirim ke kampung halaman. Itu masih menjadi motivasi terbesar. Motivasi yang menahan jeritan ...

Konsep Novel

Mainline: Andriawan, terbangun dari tidurnya, menemukan dirinya berada ditengah - tengan perpustakan. Terbangun hanya dengan tumpukan buku, rak-rak yang memanjang puluhan kilo. Tanpa suara. Bersama ketidaktahuan dan kebingungan, dia berjalan menyusuri tempat asing tersebut sembari mengingat dengan keras apa saja yang terakhir kali ia lakukan. Berbulan-bulan ia menyusuri tempat itu tanpa menemukan siapapun. Bertahan hidup dari membaca buku-buku disekelilingnya. Tanpa dia sadari, dia memasukan banyak sekali informasi dari buku-buku yang ada. Dia bertekat membaca semua buku dan menemukan cara keluar dari tempat tersebut.

Kereta Inspirasi

Ini merupakan penggalan kisah saya merantau sehari,sendiri ke kota pahlawan. saya bertemu orang-orang baru. Ya, ketika memulai perjalanan ke kota pahlawan. Sebelumnya saya bertemu dua teman dari kampus. Entah memang mungkin kebetulan. Mereka berdua juga menyiapkan perjalanan. Saat itu, mungkin kereta api menjadi transportasi favorit. Saat itu pula aku baru tau sistem boarding pass sebelum masuk ke gerbong kereta. Terakhir kali naik kereta, sistem ini belum terlihat. Itu pun bertahun-tahun yang lalu. Jika diperinci, prosesnya tidak begitu rumit. Cukup liat code unik dari tiket kereta.Masukan kode ke salah satu komputer khusus di sekitar lobi pemeriksaan. Jika instruksi dilakukan dengan benar, Kertas kecil akan keluar bertuliskan boarding pass beserta detail lengkap informasi pemesanan. Mirip seperti yang tertera pada tiket. setelah itu pergi ke antrian pemeriksaan boarding pass sebelum menuju gerbong kereta. Pemeriksaan juga mengharuskan memperlihatkan KTP. Setelah prosedur saya lewati....

Smartphone, Tidur dan Sebuah Tulisan

Alhamdulillah saya bisa menulis lagi. Setelah HP Android saya sembuh, saya bisa menulis lagi. Bukannya menulis tidak harus di smartphone ya? Itu memang benar. Tapi bagi saya, menulis pada Smartphone memberi kenyamanan tersendiri. Bagi penulis, kenyamanan dalam menulis sangatlah penting. Karena itu akan mempengaruhi kualitas sebuah tulisan. Waktu paling penting dan nyaman untuk menulis versi saya ialah "Ketika hendak tidur rebahan, sambil membuak notes pada smartphone untuk mengekspresikan ide yang ada di Otak" Kadang ini saya lakukan sampai larut malam Akibat efek Insomnia.

Ajari Aku Tersenyum

Aku tau aku tidak mudah tersenyum. bukan bibirku, tapi hatiku. Senyum memang tampak di depan, tapi menghilang di dalam. Sejak saat itu, aku pergi. Bukan raga ini tapi pikiran ini. Bukan. Tentu saja bukan. Bukankah kau selalu berfikir yang bukan-bukan? Tentangku yang tak pernah tau. Gelapku yang semua orangpun tak tau. Kisahku yang semua orang membisu. Bisakah kita berpura-pura Saja?

Tentang Kakimu yang Suci

Biasa...bermain di lembah kehidupan Terlalu biasa...menepuk angan berlarian mengecoh takdir Nafas-nafas panas mengalir menimpuk tajamnya tatapanmu Aku peduli hanya sebagai kaki dan tangan pembalas budi Di belakang sana tawa, tangis, teriakan, teka-teki melekat Rindumu mengikat pundakku... Hingga kulit-kulit mulai keriput... Tetap saja engkau disampingku... Tetap saja engkau paham walau tak ada nada terngiang... Timang-timang memukul masa lalu tanpa suara... Pejam peluk perasaan selalu.. Kini kakimu bukan lagi kaki bengkak... Saat aku benar-benar tau apa dibaliknya... Setiap jalan yang engkau lalui... Setiap sisi hidupku terbuka perlahan... Masih belum benar-benar paham... Kata tercampur suara tawa.. Senyum yang kian terbuka..

Kaki yang berjalan pelan

Seseorang pernah memberi tauku. Seseorang yang penting. Dia pernah berkata kurang lebih seperti ini "Kamu tau...ibu tidak pernah meminta apapun dariku (anaknya)...melihat aku bisa berjalan walau pelan, saat pertama kali aku belajar berjalan, merupakan kebahagiaan yang tak ternilai baginya" Aku tidak benar-benar paham kalimat itu. Bahkan sampai saat ini. Bagiku, itu wajar saja. Seorang anak pasti tumbuh secara biologis. Berjalan merupakan salah satunya. Aku tidak mengerti pada bagian "kenapa dia(ibu) bahagia dengan hal itu". Aku baru saja menemukan jawaban itu. Tepat ketika seorang anak kecil, anak dari teman kecilku bermain di rumah. Itu kerjaan ayahku. Dia senang sekali membawa si kecil itu untuk bermain di rumah. Saat itu, dia sedang dalam masa memperoleh kekuatannya untuk berjalan. Ayahku selalu saja memberikan nyanyian-nyanyian kecil agar si kecil itu berjalan. nyanyian itu, membentuk senyum si kecil. Si kecil lalu berdiri dengan kaki kecilnya yang terlihat sed...

Kembali Bersemi Sebuah Kesemuan

Assalamualaikum.... Semoga kalian baik-baik saja entah siapa pun kalian yang membaca tulisan ini... Sudah lama sekali tidak menulis di blog ini... Maklumlah...semester akhir...banyak perang dengan kertas, dosen dan ide-ide gila perihal revisian Insya Allah beberapa minggu ke depan saya akan meng update konten di blog ini

Diantara 3 Kata

Gambar
Diantara 3 Kata Suka... Cinta... Sayang... Dimanakah letak hatimu...? Sungguh aku tak pernah mengerti... Suara perasaan ini... Ke arah mana...? Dan dari mana..? Bagaiman semua berawal....? Yang hanya aku tau... Aku lelah jika tak melihat senyummu... Aku bingung jika tak mendengar apapun tentangmu... Dan aku sedih bersamaan dengan datangnya senyum saat kamu memenuhi pikiranku... Namun... Berkisah tentangku... Hanyalah titik kecil... Mencoba memangku bintang... Cahyanya menyebar... Titik kecil pun menghilang... Lebih dari itu semua... Tak ada yang sia-sia... Aku hanya milik tuhanku... Kamu pun sama... Aku selalu tau tentangmu dalam doaku... Aku kirim pesan itu dengan wajah menengadah ke langit... Aku ingin menjagamu... Tuhanku lebih berhak menjagamu... Semoga kita dipertemukan... Bersama Kisah dan Petualangan... Bersama sedih dan senang... Bersama ketaatan... Bersama... Saling menjaga dan melengkapi... Andriawan-d Image Source: http...