Postingan

Nairsa

Sebuah nama yang akan menjadi konsep tulisanku. Entah kapan. Aku suka nama itu. Aku akan mengawalinya dari kisah karakter nairsa. Gadis kecil yang berjuang membuktikan dirinya bisa. Selalu membuktikan dirinya bisa. Dan selalu menyimpan semuanya sendirian. Rapat dan erat.

Cermin 2019

2019, postingan pertama di tahun ini. Banyak hal terjadi. Belum sempat tersampaikan di sini. Belum sempat bercerita. Tahun ini...aku memutuskan untuk tidak lagi mengutak-atik masalah hati.. masalah wanita... masalah cinta... Padahal... beberapa bulan sebelum keputusan aku menyerahkanmu kembali ke awal semula ketika perasaan ini muncul, aku sangat-sangat siap membicarakan pernikahan, membicarakan masa depan. Walaupun sebenarnya aku tidak paham benar apa itu. Tapi bersama kamu, itu semua serasa bisa dijalani. Sesulit apapun. Tidak lagi.. Mengapa? Karena aku sadar... benar-benar sadar. Aku bukan pilihan. Tak bisa memilih. Tak punya jalan lagi. Sebelumnya... Aku seperti prajurit...terus berjuang... mendapatkan hatimu... walaupun tampak di sana...tak berbuat banyak... hampir tak berbuat apa-apa. Aku menunggu dan menanti keputusan. Sembari memperbaiki diri. Terus seperti itu. Hingga orang tuamu, memberi sinyal. Keraguan. Ketidakmampuan. Ketidakpercayaan. Aku ingin maju menepis sem...

Aku dan Potongan Kisah

Di titik ini, aku tidak berani lagi menyentuh kisahmu. Hanya potongan kisah. Kadang hanya angin berlalu. Kita dewasa. Kita dipaksa dewasa. Aku tak lagi banyak menawarkan senyum. Rangkaian kata sudah tak lagi rapi. Pegangan ini tak lagi erat. Tak lagi aku ingin... Seluruh kisahmu... Aku biarkan utuh... Seutuhnya milikimu... Aku titip angka 26... Aku titip segumpal senyum... Kita menua... Saat kita benar-benar berkisah... Saat senja membawa kita duduk... Kemudian berdiri... Meninggalkan genggaman... Sebelum senja lelah...

Ini Aku

Hei... Ini Aku... Kau tak mengenalku... Lagi... Kenapa... Bagaimana bisa... Tidak mungkin... Lagi... Hei... Maaf... Lagi... Sekali lagi... Tidak lagi... Andriawan

Apa Kabar Jakarta

Sudah sangat sangat sangat lama aku tidak menginjakkan kaki di blog ini. Sebuah kalimat hiperbola dilontarkan oleh penulis gadungan. Pena hatiku berdebu. Tak sempat tertuang pada halaman-halaman digital yang tinggal di sini. Yap...tulisan ini diketik dari ponsel canggih keluaran terbaru saat kipas angin menyala mengusir panas dan nyamuk. Tulisan ini cukup dekat dengan lokasi Monas. Hanya beberapa kilometer saja. Kenapa aku kemari? Karena seseorang pernah datang kesini. Meminta izin. Lalu pergi. Lalu.. apa saja yang tersisa darimu selain ketika jari, stress, panas dan rutinitas membosankan terus bergulir? Harapan kecil bahwa aku bisa mengadu nasib layaknya orang berbadan kekar lainnya. Tak perlulah kusebut-sebut ibu kota. Toh sama saja dengan kota-kota lainnya. Hanya saja gedung-gedung dan kemewahan yang sering muncul di Televisi. Membawa sedikit sekali sisa gaji untuk dikumpulkan dan dikirim ke kampung halaman. Itu masih menjadi motivasi terbesar. Motivasi yang menahan jeritan ...

Konsep Novel

Mainline: Andriawan, terbangun dari tidurnya, menemukan dirinya berada ditengah - tengan perpustakan. Terbangun hanya dengan tumpukan buku, rak-rak yang memanjang puluhan kilo. Tanpa suara. Bersama ketidaktahuan dan kebingungan, dia berjalan menyusuri tempat asing tersebut sembari mengingat dengan keras apa saja yang terakhir kali ia lakukan. Berbulan-bulan ia menyusuri tempat itu tanpa menemukan siapapun. Bertahan hidup dari membaca buku-buku disekelilingnya. Tanpa dia sadari, dia memasukan banyak sekali informasi dari buku-buku yang ada. Dia bertekat membaca semua buku dan menemukan cara keluar dari tempat tersebut.

Kereta Inspirasi

Ini merupakan penggalan kisah saya merantau sehari,sendiri ke kota pahlawan. saya bertemu orang-orang baru. Ya, ketika memulai perjalanan ke kota pahlawan. Sebelumnya saya bertemu dua teman dari kampus. Entah memang mungkin kebetulan. Mereka berdua juga menyiapkan perjalanan. Saat itu, mungkin kereta api menjadi transportasi favorit. Saat itu pula aku baru tau sistem boarding pass sebelum masuk ke gerbong kereta. Terakhir kali naik kereta, sistem ini belum terlihat. Itu pun bertahun-tahun yang lalu. Jika diperinci, prosesnya tidak begitu rumit. Cukup liat code unik dari tiket kereta.Masukan kode ke salah satu komputer khusus di sekitar lobi pemeriksaan. Jika instruksi dilakukan dengan benar, Kertas kecil akan keluar bertuliskan boarding pass beserta detail lengkap informasi pemesanan. Mirip seperti yang tertera pada tiket. setelah itu pergi ke antrian pemeriksaan boarding pass sebelum menuju gerbong kereta. Pemeriksaan juga mengharuskan memperlihatkan KTP. Setelah prosedur saya lewati....