Postingan

Ini Aku

Hei... Ini Aku... Kau tak mengenalku... Lagi... Kenapa... Bagaimana bisa... Tidak mungkin... Lagi... Hei... Maaf... Lagi... Sekali lagi... Tidak lagi... Andriawan

Apa Kabar Jakarta

Sudah sangat sangat sangat lama aku tidak menginjakkan kaki di blog ini. Sebuah kalimat hiperbola dilontarkan oleh penulis gadungan. Pena hatiku berdebu. Tak sempat tertuang pada halaman-halaman digital yang tinggal di sini. Yap...tulisan ini diketik dari ponsel canggih keluaran terbaru saat kipas angin menyala mengusir panas dan nyamuk. Tulisan ini cukup dekat dengan lokasi Monas. Hanya beberapa kilometer saja. Kenapa aku kemari? Karena seseorang pernah datang kesini. Meminta izin. Lalu pergi. Lalu.. apa saja yang tersisa darimu selain ketika jari, stress, panas dan rutinitas membosankan terus bergulir? Harapan kecil bahwa aku bisa mengadu nasib layaknya orang berbadan kekar lainnya. Tak perlulah kusebut-sebut ibu kota. Toh sama saja dengan kota-kota lainnya. Hanya saja gedung-gedung dan kemewahan yang sering muncul di Televisi. Membawa sedikit sekali sisa gaji untuk dikumpulkan dan dikirim ke kampung halaman. Itu masih menjadi motivasi terbesar. Motivasi yang menahan jeritan ...

Konsep Novel

Mainline: Andriawan, terbangun dari tidurnya, menemukan dirinya berada ditengah - tengan perpustakan. Terbangun hanya dengan tumpukan buku, rak-rak yang memanjang puluhan kilo. Tanpa suara. Bersama ketidaktahuan dan kebingungan, dia berjalan menyusuri tempat asing tersebut sembari mengingat dengan keras apa saja yang terakhir kali ia lakukan. Berbulan-bulan ia menyusuri tempat itu tanpa menemukan siapapun. Bertahan hidup dari membaca buku-buku disekelilingnya. Tanpa dia sadari, dia memasukan banyak sekali informasi dari buku-buku yang ada. Dia bertekat membaca semua buku dan menemukan cara keluar dari tempat tersebut.

Kereta Inspirasi

Ini merupakan penggalan kisah saya merantau sehari,sendiri ke kota pahlawan. saya bertemu orang-orang baru. Ya, ketika memulai perjalanan ke kota pahlawan. Sebelumnya saya bertemu dua teman dari kampus. Entah memang mungkin kebetulan. Mereka berdua juga menyiapkan perjalanan. Saat itu, mungkin kereta api menjadi transportasi favorit. Saat itu pula aku baru tau sistem boarding pass sebelum masuk ke gerbong kereta. Terakhir kali naik kereta, sistem ini belum terlihat. Itu pun bertahun-tahun yang lalu. Jika diperinci, prosesnya tidak begitu rumit. Cukup liat code unik dari tiket kereta.Masukan kode ke salah satu komputer khusus di sekitar lobi pemeriksaan. Jika instruksi dilakukan dengan benar, Kertas kecil akan keluar bertuliskan boarding pass beserta detail lengkap informasi pemesanan. Mirip seperti yang tertera pada tiket. setelah itu pergi ke antrian pemeriksaan boarding pass sebelum menuju gerbong kereta. Pemeriksaan juga mengharuskan memperlihatkan KTP. Setelah prosedur saya lewati....

Smartphone, Tidur dan Sebuah Tulisan

Alhamdulillah saya bisa menulis lagi. Setelah HP Android saya sembuh, saya bisa menulis lagi. Bukannya menulis tidak harus di smartphone ya? Itu memang benar. Tapi bagi saya, menulis pada Smartphone memberi kenyamanan tersendiri. Bagi penulis, kenyamanan dalam menulis sangatlah penting. Karena itu akan mempengaruhi kualitas sebuah tulisan. Waktu paling penting dan nyaman untuk menulis versi saya ialah "Ketika hendak tidur rebahan, sambil membuak notes pada smartphone untuk mengekspresikan ide yang ada di Otak" Kadang ini saya lakukan sampai larut malam Akibat efek Insomnia.

Ajari Aku Tersenyum

Aku tau aku tidak mudah tersenyum. bukan bibirku, tapi hatiku. Senyum memang tampak di depan, tapi menghilang di dalam. Sejak saat itu, aku pergi. Bukan raga ini tapi pikiran ini. Bukan. Tentu saja bukan. Bukankah kau selalu berfikir yang bukan-bukan? Tentangku yang tak pernah tau. Gelapku yang semua orangpun tak tau. Kisahku yang semua orang membisu. Bisakah kita berpura-pura Saja?

Tentang Kakimu yang Suci

Biasa...bermain di lembah kehidupan Terlalu biasa...menepuk angan berlarian mengecoh takdir Nafas-nafas panas mengalir menimpuk tajamnya tatapanmu Aku peduli hanya sebagai kaki dan tangan pembalas budi Di belakang sana tawa, tangis, teriakan, teka-teki melekat Rindumu mengikat pundakku... Hingga kulit-kulit mulai keriput... Tetap saja engkau disampingku... Tetap saja engkau paham walau tak ada nada terngiang... Timang-timang memukul masa lalu tanpa suara... Pejam peluk perasaan selalu.. Kini kakimu bukan lagi kaki bengkak... Saat aku benar-benar tau apa dibaliknya... Setiap jalan yang engkau lalui... Setiap sisi hidupku terbuka perlahan... Masih belum benar-benar paham... Kata tercampur suara tawa.. Senyum yang kian terbuka..