Postingan

Negeri Kopi Sianida

Gambar
Negeri Kopi Sianida Sebentar saja aku tinggal dalam mimpi, terbit jenis kopi baru. Biasanya aku bertatap muka kopi milik ayah. Kadang sedikit pahit, kadang sedikit gula. Kopi nampak asing yang membuat pusing. Lalu tergeletak mengucap diam dan terkapar. Wartawan membangunkan dengan cercaan pertanyaan. Di mimpiku seorang buta bertanya. Harusakah ada yang mati, padahal di bangku pendidikan kita telah dikenalkan kimia. Walau tak sempat bertanya. Aku terbangun bersama terkejut. Mimpiku mengataiku sialan. Akhirnya kuberlari tepat di depan sebuah televisi. Menganga bak manusia tanpa kelana. Negeriku bukan negeri sandiwara. Lihat saja para petarung medianya. Satu kisah ribuan kata mendunia. Bahkan kopi hitam khas ibu tak sempat terkenal walaupun puluhan tahun ada di meja. Aku iri dengan kopi Sianida. Wajahnya setenar artis ibu kota. Pelakunya sembunyi di antara ribuan  manusia. Sementara aku tetap begitu. Mengulang rutinitas roda cahaya. Tak peduli walau tak...

Mengunci Sepi

Gambar
Mengunci Sepi Aku baru sadar diamku kalah dengan suara jangkrik malam memukul rebana hijau. Ku ulang putar-putar otak mengikis otak-atik gadget antik. Ternyata memang kekalahan meniduri lekuk tubuhku berakhir di pangkal bibir. Harus ku akui. Ini memuakkan. Seperti mengunyah dunia dan menelannya berbentuk darah. Masih tanpa suara. Belum habis diamku. Ingatan 3 gadis manja bertamu. Membuyarkan semangat. Seperti bapak kehilangan anak. Mereka dan pikiran imajinatifku. Aku pikir aku akan bersuara. Tapi lilinpun hanya meleleh meninggalkan asap. Bayangkan jika lilin tertawa. Mereka bertiga mengurai masalah. Lalu mengembalikannya seperti sedia kala. Meminjam ruang dalam otakku hanya untuk memukulku. Pergi-pergi berlalu semu. Mereka bak timer berwajah manusia. Siap menamparku saat aku kaku. Aku dan aku dalam otakku lalu membisu. Berakhir di nyanyian benda elektronik berlayar remi. Menghidangkan lagu favoritku. Lalu malam mengantarkanku menduduki singgasana mimpi putih....

Perusahaan Pembeli Fakta

Gambar
Perusahaan Pembeli Fakta Semburat rona merah mengitari jiwa kala matahari berdiskusi dengan bumi perihal persisnya waktu mengudara. Sembari minum kopi tawa aku menelan ludah mencibir koran pagi penuh susunan kata berbau drama. Inikah hasil diskusi bangsa yang disatukan dalam pesta berpakaian surat suara. Nominal rupiah tertawa terbahak-bahak, berteman mesra bersama dolar raja dunia. Sementara banyak perusahaan bersedia siap melaju kencang membeli murah sebuah fakta lalu menggantinya dengan roda-roda  kekerasan berbuih butiran air mata. Aku berangkat bersama sisa cerita koran yang mengekor kepala. Bukan berkerja, tapi berkumpul bak barisan paduan suara. Nihil hasil Nihil pertanyaan. Suatu badan tertinggi yang disebut-sebut barisan penyokong bangsa. Sesekali terlihat jas almamater melekat di badan dan  menghias lehernya. Ah...aku lupa mereka juga bagian negara.Termasuk aku komat kamit meniru penyair berpenghasilan rendah atau jangan-jangan aku mulai suka ...

4 Nama Terang

Gambar
4 Nama Terang Entah apa namanya. Mungkin semacam takdir. Tanpa sempat berfikir. Diriku dan kalian membentuk simpul kehidupan. Tececar bergemuruh biru belas kasih. Terpampang jelas setiap individu membeli takdir. berserabut fikir. bermusuhan dengan ketakutan. Nyawapun seperti mainan para ahli tafsir. Diriku adalah kepala. Kalian adalah badan dan kaki tanpa tangan. cukuplah kepala yang menggantikan tangan dengan pikiran. bersiap menguji takdir bernafas kejanggalan. Kalian adalah harapan. Menutupi diri dengan kamuflase senyuman. ditepi kelemahan kalian simpan. Kasihku bersama pertualangan menguliti ketebalan buku berwarna ungu. Image Source:  https://pixabay.com/en/friends-kameraden-camaraderie-good-1013691/

Hanya

Gambar
Hanya Engkau... Tak akan menjadi apa-apa dalam ceritaku... Engkau hanya akan menjadi pembunuh perasaanku... Kemudian lari menjauh Engkau hanya menjadi perampas senyum... Yang sekian tahun aku kumpulkan dan aku simpan... Hingga membentuk sebuah perasaan... Engkau hanya bagian dari sebuah kekecewaan.. yang hinggap meminta nama... kemudian menyumpah bersama kelabu... Engkau hanya angan... Berhembus aroma kebenciaan... Menikam takdir hingga tergelincir... Hanya itu yang engkau tinggalkan... Hanya itu yang engkau sisakan... Memudar bersama kenangan... Image Source:  https://pixabay.com/en/silhouette-fitness-bless-you-bike-683751/

Menyederhanakan Dunia

Gambar
Menyederhanakan Dunia Aku ingin merangkum duniaku dalam satu waktu.. Waktu dimana aku lari sejenak dari dunia mereka... Aku ingin mempermainkan kisahmu dalam tulisanku... Walaupun orang lain sanggup menulisnya dengan lembut... Iri menghasilkan jeritan... Jeritan menghasilkan luka... Luka lika-liku hati... Dingin tapi tak membeku... Panas tapi tak membakar... Sudah lelah meminang janjimu... Walau tak kau ucapkan... Yang ku bisa pastikan tentang rasa inginmu... Tanda yang mengarahkanku harus menjauh... Dan kututup semua dalam selembar ikatan rapuh... Image source:  https://pixabay.com/en/hands-world-map-global-earth-600497/

Kotak Salju

Gambar
Kotak Salju Janji itu tertulis Rapi... Bukan di dalam lembaran... Tapi di sela hati yang terdalam... Pernah bayang-bayang terngiang.. Rona salju yang mencair... Duduk dibangku kayu yang membeku... Dikawal musik klasik berdurasi kereta api... Arigatou... Kata hangat yang selalu terdengar.... Bahkan melelehkan salju di saku celana... Itu semua tentang sebuah janji... Yang termaktub dalam sebuah kotak salju.. Ikrar bunyi saat bersama kita ucapkan... kan kubuka kotak salju itu dikedai teh dipinggiran tokyo... untuk janji abadi yang aku titipkan pada negeri sakura Image Source:  https://pixabay.com/en/gift-box-silver-gold-ribbon-snow-578268/